Selasa, 01 Maret 2011

belajar dari semut



















semua orang tahu,
aku semut.
semut hitam.
hitam !
kecil !
dan jelek !

aku juga tahu itu.

aku hitam,
tapi jangan kau kira aku kejam,
seperti koruptor yang menghujam.

aku kecil,
tapi kelakuanku tidak dekil,
seperti para penguasa yang gemar mengucil kaum kecil.

aku jelek,
tapi tidak jelek,
seperti kaum berintelek yang suka mewangi ketek.



*p12*16/11/2010*


HIDUP


















Jangan tanyakan apa yang bisa mengalahkan saya,
matahari pun saya kalahkan.



*braga*25/08/2010*

Selasa, 15 Februari 2011

tentang mereka, para pendaki gunung.




















Ada pertanyaan remeh yg sering ditanyakan kpd para pendaki gunung :
Mengapa harus mendaki susah payah sampai puncak apabila nantinya turun lagi ?
Yang bertanya mungkin perlu mengkaji filosofi hidupnya sendiri.
Mendaki gunung dan turun lagi
itu mencerminkan perjalanan umum manusia :
kita lahir, mencapai puncak usia, dan turun ke haribaan Ilahi.
Mendaki gunung menjadi semacam simulasi kehidupan
ketika kita berjuang bukan mengatasi tingginya pendakian atau curamnya tebing,
melainkan mengatasi diri kita sendiri.
Saat itulah, pada titik-titik ekstrem kelelahan,
kita tahu batas keberadaan di dunia.
Saat turun dengan selamat, kita membawa diri yang baru,
karena telah menemukanya kembali saat tiba di puncak.

--TANTYO BANGUN--



-foto dari google-

Minggu, 13 Februari 2011

PERAHU KERTAS




















Neptunus berkata lain;

``surat itu harus ke laut``

basah,
lunak,

mengecil,

kecil, Kecil, KECIL...

lalu HILANG .

***


katakan bagaimana cara aku menjelaskan perasaan ini..

KATAKAN !

lalu tangan menyuruhku mengambil pena dan kertas.
kemudian tangan mulai menulis :

siapakah kamu ?
YA, kamu .

kamu,
disini kamu telah mengajarkanku menoreh tinta menjadi cinta.

ah,cinta lagi cinta lagi.

kamu,
perahu kertas.
benar-benar telah melipat-lipat perasaanku,
hingga aku tak tahu,
dimana awal lipatan itu,
apalagi akhir.

kamu,
perahu kertas.
mungkin sebaiknya kuantar ke laut.
lalu kau bisa,
basah,
lunak,
mengecil,
kecil,
Kecil,
KECIL,
lalu HILANG.
sampai lipatan itu tak terlihat lagi.


tangan berhenti menulis,
meletakan pena kembali ke tempatnya,
surat dimasukkan ke dalam perahu kertas.

kemudian bibir membisikan;
``selamat jalan perahu kertas,
bawalah surat ini bersamamu...
lupakan aku...``