Jumat, 02 Juli 2010

borobudur [part I - januari 2009]



awan diam.





































ada apa gerangan di balik awan?


mungkin ada tempat persembunyian
untuk matahari.
mungkin juga untuk bulan,
atau bintang?

ada apa gerangan di balik awan?

aku tak tahu kawan.

yang kutahu,
awan tetap di tempatnya,
dia selalu menanggung segalanya sendirian.

apakah awan itu?
siapakah dia?

apakah saudaranya hujan?
tidak bukan?
atau saudaranya langit?
langit itu awan kan?

lalu awan itu apa?

dia selalu menanggung segalanya sendirian.

dia melihat segala yang terjadi,
lalu diam.
dia melihat segala pergerakan di seluruh planet,
lalu diam.
dia melihat anak-anak bermain sepak bola,
lalu diam
dia melihat sepasang kekasih berciuman,
lalu diam.
dia melihat seorang pemabuk yang tertidur di pinggir jalan,
lalu diam.
dia melihat para teroris sedang merencanakan sesuatu,
lalu diam.
dia melihat koruptor yang sedang mandi tanpa busana,
lalu diam.
dia melihat seorang ibu merindukan anak laki-lakinya,
lalu diam.
dia melihat seorang pelajar buang air di dinding sekolah,
lalu diam.
dia melihat segalanya,
lau diam.


awan diam.
diam.
d i a m .

d i a m.

lalu
d i a m.
diam.
tetap diam.
masih diam.
terus diam.
dan
d i a m.



catatan wanita berambut keriting
di pagi hari bersama segelas moccacino dan sekotak roti kering.

Minggu, 27 Juni 2010

Rabu, 23 Juni 2010

saya bercerita pada sepi

sepi,
apakah kau tahu,
apa itu cinta?

sudah bertahun-tahun saya mengenalnya,
kami sama-sama bertumbuh,
dan selalu saya melihat wajahnya di
jepretan lensa kamera.

sepi,
apakah kau tahu,
apa itu cinta?

dua tahun lalu,
lebih tepatnya kurang lebih,
kami pernah bersama.
dan saya tinggalkan dia tanpa alasan,
bersama pagi dan malamnya di kota
nasi kucing.
dan selalu saya melihat wajahnya di
jepretan lensa kamera.


sepi,
kemarin dia katakan ;
"saya cinta kamu..."

mesin pencipta denyut saya
bergerak lebih cepat dari yang saya kira.
denyutannya menyerupai bunyi traktor sawah,
degedegedegedegedegedegedegedegedegedege!!!
yang menghujam tanah tanpa ampun,
sekali pun tanah itu tak bebicara,
traktor itu tak mendengarkan.
dan selalu saya melihat wajahnya di
jepretan lensa kamera.

sepi,
lalu saya juga bilang;
"saya juga mencitaimu..."

sepi,
kami adalah pemikir,bukan perasa.
tapi,
kami juga perasa yang kadang jarang mikir,
kami pemikir yang punya rasa,
kami perasa punya rasa,
kami pemikir suka mikir.

sehingga,
cinta kami sebatas kata,
hanya kata,
cuma kata,
lalu tak jadi nyata,
padahal kami mendekati fakta.

dan selalu saya lihat wajahnya di
jepretan lensa kamera.

sepi,
apakah kau tahu,
apa itu cinta?






*
catatan seorang perasa dan pemikir,
di kamar kecil bercat tembok dua warna,
ditemani nasi goreng yang sudah dingin.
ini hanya cerita dan tanya.

Senin, 21 Juni 2010

ketika saya difoto.










































































SERET SOROT





dia diseret ke tengah-tengah kerumunan,
entah kerumunan apa.
Lalu wajahnya disorot,
entah menggunakan apa.

diseret atau disorot,itu tidak masalah.

masalahnya sekarang,
dia harus mengatakan kata-kata yang tidak ingin dia katakan
tapi harus dia katakan.

Lah?berarti dia ingin mengatakan kata-kata itu,bukan?
Koq bilangnya kata-kata yang tidak ingin dia katakan?
Lalu mengapa mengatakan dia tidak ingin mengatakan,
tetapi tetap berkata-kata?

ingin atau tidak ingin,
dia harus tetap mengatakannya.
berarti dia ingin tapi tidak ingin,
atau tidak ingin tapi ingin.
ingin apa?
tidak ingin apa?
ya itu...berkata-kata,
eh,mengatakan.
ah..berkata atau mengatakan?
sama saja,yang penting bersuara..!

Lah?berkata atu bersuara?
koq bersuara?

ah,tidak penting membahasnya.

sekarang,apa yang harus dikatakan?
ya,kata-kata lah...

iya,kata-katanya apa?

dia yang mau berkata.
koq tanyanya ke saya?
saya siapa?
saya dia?
bukan kan?

lalu,saya ini mengetik apa?
ya,kata-kata..

berarti ini dong kata-kata yang tidak ingin dikatakan,
tapi harus dikatakan?

eh,tadi katanya mengatakan atau berkata,
koq sekarang jadi dikatakan?

apa bedanya?
semua sesuai konteks kata-katanya,
ya...kalimatnya.

kembali lagi ke dia.

dia siapa?

lah,yang ingin mengatakan.

oh,,yang diseret kemudian disorot?

iya.

terus?

ya gg ada terus-terus.
cukup sampai disini!

lalu yang ingin dia katakan apa?

*
dia diseret ke tengah-tengah kerumunan,
entah kerumunan apa.
Lalu wajahnya disorot,
entah menggunakan apa.



:: maaf,bila pembaca bingung.
seharusnya pembaca tidak usah bingung,
wong saya juga tidak menyuruh anda mebacanya toh?
ngapain bingung?


>>catatan yang tersirat di atas angkot,
lagi-lagi di atas angkot.
sangat tidak keren!

Senin, 24 Mei 2010

who am i ?










pertanyaannya adalah:
`siapa saya?`
[mari bertanya pada diri kita masing2]

siapa saya?
mungkin itu pertanyaan yg simple,
bisa saja orang menjawabnya dengan nama mereka,
misalnya; `saya astry.`
jelas,namun `siapa saya` ini lebih kepada siapakah kita sebenarnya?

saya juga bingung ingin menjawab apa.

semuanya seperti siluet,
tak jelas itu apa,
yang agak jelas cuma bentuknya.

kadang,
orang2 lebih gampang mendefenisikan sesuatu atau orang lain dari pada dirinya sendiri.
mungkin karena malu dianggap berlebihan,
atau mungkin takut orang berkata `oh...ternyata kamu itu begitu ya?``
kadang ada yang pasrah dengan berkata ``yang menilai diri saya itu orang lain,bukan saya.``
Ok. itu juga tidak ada salahnya.

susah memang,mendefenisikan diri kita sendiri,
tapi tidak ada salahnya juga bukan?

mari kita hening sejenak dan bertanya pada diri kita,
`siapa saya?`
dan mari mengumpulkan keping-keping jawabannya.


*mungkin tulisan ini tidak menarik,
atau tidak penting,
atau tidak bermutu,
atau apalah...
tapi kembali lagi ke tujuan awal,
saya hanya ingin MENULIS.
:)

terimakasih bagi yang mau mampir di beranda saya...